Tuang Sageru Tandai Peluncuran Inovasi NONA SARI di MBD
- account_circle admin
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tiakur, EXPO MBD
Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) melalui Dinas Pertanian dan Pangan meluncurkan inovasi NONA SARI (No Nasi Sehari) sebagai gerakan untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal dan memperkuat kemandirian pangan masyarakat.
Peluncuran yang berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan MBD, Kamis (6/8/2026), ditandai dengan prosesi menuang sageru, minuman tradisional yang berasal dari pohon koli. Prosesi tersebut menjadi simbol kekayaan pangan lokal sekaligus identitas budaya masyarakat MBD.
Sekretaris Daerah MBD, Eduard J. S. Davidz, yang secara resmi meluncurkan NONA SARI, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar mengurangi konsumsi nasi, tetapi mengajak masyarakat kembali memanfaatkan pangan lokal yang sehat, bergizi, aman, dan bernilai ekonomi.
“Kita ingin mendorong masyarakat agar kembali memanfaatkan pangan lokal yang kita miliki. Kita harus mampu memproduksi sendiri dan mengonsumsi sendiri, sehingga perputaran ekonomi terjadi di daerah dan ketergantungan terhadap komoditas dari luar dapat dikurangi,” ujarnya.
Sekda juga mendorong Dinas Pertanian dan Pangan untuk mendata komoditas pangan yang masih didatangkan dari luar daerah sebagai dasar peningkatan produksi pangan lokal.
Menurutnya, penguatan pangan lokal penting untuk mempersiapkan MBD menghadapi pengembangan Blok Abadi Masela, termasuk menjadikan masyarakat sebagai produsen sekaligus pemasok kebutuhan pangan dan logistik.
Gerakan NONA SARI diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi pangan lokal seperti kasbi, petatas, pisang, dan berbagai hasil pangan daerah lainnya.
Melalui gerakan ini, Pemkab MBD mendorong terwujudnya ketahanan dan kemandirian pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian identitas pangan lokal sebagai bagian dari kekuatan budaya daerah. (exp01)
- Penulis: admin




















Saat ini belum ada komentar