Jemaat GPM Tiakur Latih Kepemimpinan Dasar Remaja

Tiakur, EXPO MBD
Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Tiakur, Klasis Pulau-pulau Leti Moa Lakor (Lemola) melatih Kepemimpinan Dasar Remaja Gereja. Kegiatan ini melibatkan sebanyak 150 anak remaja, Dibawah sorotan tema “Beta Remaja GPM”. Bertempat di aula kelurahan Tiakur selama kurun waktu 2 hari sejak, Kamis (03/04/2025).


Ketua Komisi Anak Remaja dan Katekisasi Jemaat GPM Tiakur, Johana Helena Bebena menyampaikan anak remaja merupakan pusaka Tuhan yang harus dilindungi dan dijaga oleh orang tua juga pengasuh sekolah minggu, maupun guru di sekolah. Dimana anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang pandai, cerdas dan memiliki kepribadian, akhlak yang mulia.

Dikatakannya, Beta Remaja GPM menunjukan identitas diri sebagai seorang remaja yang berakar dalam iman Kristen, khususnya dalam tradisi dan ajaran GPM. Identitas ini tercermin dalam sikap, prilaku, dan tanggung jawab sebagai bagian dari komunitas gerejawi dan masyarakat. Menunjukan identitas diri melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Sementara itu, menurut Ketua Sub Seksi Pembinaan Anak Remaja dan Katekesasi, Djacky Laipiopa  bahwa dibutuhkan generasi muda bangsa untuk kepemimpinan yang berkualitas, sehingga kepemimpinan masa depan pasti akan diisi dengan figure dengan kapasitas dan kapabilitas mumpuni sebagai pemimpin. Mempersiapkan kepemimpinan generasi muda gereja sehingga menjadi solusi konstruktif sekaligus keikutsertaaan gereja dalam berkontribusi sebagai pilar bangsa.

Lebih lanjut Ia mengatakan, pelatihan kepemimpinan dasar bagi anak remaja GPM di Jemaat Tiakur bertujuan untuk membentuk karakter pemimpin yang berlandaskan iman Kristen, tanggung jawab dan kepedulian sosial. Dengan kegiatan ini anak remaja GPM diharapkan menjadi pemimpin muda yang bertanggung jawab, berintegritas dan mampu menjadi teladan.


Perwakilan peserta pelatihan kepemimpinan dasar anak remaja, Glen Beay mengungkapkan bahwa pelatihan kepemimpinan dasar bagi anak remaja gereja sebagai calon pemimpin masa depan, baik di gereja, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Kegiatan ini menghadirkan fasilitator yang memiliki pengalaman baik itu pemimpin gereja, aktivis maupun pendidik.

Diera kompetitif dalam kemajuan dunia globalisasi, anak remaja gereja dituntut untuk bertahan dan harus tetap maju untuk berkompetisi secara sehat sesuai dengan potensi masing-masing individu, ujarnya mengakhiri. (Tim)

Tinggalkan Balasan